Legislator ajak masyarakat filter globalisasi demi menjaga budaya

Jakarta (ANTARA) – Anggota Komisi X DPR RI Ali Zamroni mengajak masyarakat untuk melakukan filter terhadap arus globalisasi yang kuat demi menjaga budaya Bangsa Indonesia.

“Sekarang kita lihat perkembangan zaman, anak kalau susah makan dikasih hp baru makan. Mau tidak mau anak merasakan budaya yang tidak seharusnya diketahui, maka perlu ada filter,” katanya dalam acara Sosialisasi Kemajuan Pembudayaan sebagai Haluan Pembangunan Nasional yang diikuti di Kabupaten Lebak, Banten, Selasa.

Ali mengatakan arus globalisasi tidak dapat dilawan. Hal tersebut juga bukan berarti tidak bagus, namun perlu ada filter agar tidak ditelan mentah-mentah.

Dalam hal ini, dia menilai sekolah memiliki peran yang sangat penting, karena orang tua tidak sepenuhnya mengetahui karakteristik anak dengan baik saat di sekolah.

“Maka di situ harus diberikan pendidikan akhlak untuk menyaring budaya asing,” ujarnya yang mewakili daerah pemilihan Banten I.

Budaya asing tersebut, kata Ali, menyebabkan sejumlah bahasa, permainan, dan ciri khas suatu wilayah hilang. Salah satunya adalah budaya Baduy di Lebak, Banten yang kian terancam akibat perkembangan teknologi akibat banyaknya wisatawan yang berkunjung.

Baca juga: Kemendikbudristek: Jaga budaya jangan sampai baru teriak saat diklaim

Menurutnya, perkembangan teknologi adalah tantangan yang perlu dihadapi secara bersama-sama. Namun, pelestarian budaya tetap harus digalakkan, seiring dengan adanya gempuran perkembangan teknologi.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Perlindungan Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) Judi Wahjudin menyatakan upaya pemajuan kebudayaan adalah bagian dari upaya pembangunan negara.

“Kebudayaan menjadi komponen pembangunan nasional, porsinya besar, tidak hanya obyek dan tradisi, namun juga kebudayaan kekinian seperti lagu, film, makanan, dan lain sebagainya,” katanya.

Upaya pemajuan kebudayaan, jelas Judi, telah dilakukan sejak 2017 silam melalui Undang-Undang No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Hingga kini, terdapat sejumlah produk pemajuan kebudayaan seperti Program Dana Indonesiana yang telah mengucurkan Rp5 triliun untuk dinikmati para pelaku kebudayaan.

Baca juga: Menparekraf sebut aspek budaya ungguli kunjungan wisata di Indonesia

 

Pewarta: Sean Muhamad
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2023

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *